5 Destinasi Check-in Jelajah Masa Lalu Ayutthaya

1718
5 Destinasi Check-in Jelajah Masa Lalu Ayutthaya

Ayutthaya tidak hanya indah karena statusnya sebagai kota warisan dunia, tetapi juga memiliki daya tarik mendalam dari jejak waktu yang tersembunyi di kuil-kuil tua, lengkungan gerbang bata, akar pohon kuno, arca Buddha sakral, dan jalan setapak yang tenang yang seolah masih menyimpan napas ibu kota lama tanpa memudar. Mengunjungi Ayutthaya bukan hanya melihat situs-situs bersejarah, tetapi seperti berjalan perlahan melewati gerbang waktu untuk merasakan masa lalu yang masih hidup di masa kini.

"5 Destinasi Check-in Menjelajahi Masa Lalu Ayutthaya" adalah koleksi untuk para pecinta kota tua, penggemar fotografi, penggemar sejarah, dan pelancong yang menyukai suasana yang anggun dan sakral namun tidak terlalu suram. Setiap destinasi memiliki keunikan tersendiri, termasuk kuil yang selamat dari kobaran api perang, arca Buddha dalam akar pohon beringin, jembatan bata di tengah kawasan pengrajin kuno, lengkungan gerbang yang dipeluk akar pohon, dan kuil tua dengan legenda hangat di baliknya.

1. Wat Na Phra Men Ratchikaram

Wat Na Phra Men Ratchikaram adalah salah satu kuil penting untuk memulai perjalanan menembus waktu ke masa lalu, karena masih mempertahankan suasana seni arsitektur Ayutthaya dengan sangat utuh. Kuil ini sering disebut sebagai kuil yang selamat dari pembakaran saat jatuhnya ibu kota pada tahun 2310 BE, sehingga arsitektur dan suasana di dalamnya masih dengan jelas mencerminkan nuansa Ayutthaya akhir.

Sorotan utamanya adalah “Phra Phuttha Nimit Wichit Man Moli Sri San Phet Borom Trai Lokkanat”, arca Buddha yang mengenakan pakaian raja, yang indah dan penuh kekuatan. Di dalam ubosot (aula penahbisan), cahaya redup lembut memantul pada arca. Ketika dipadukan dengan asap dupa dan cahaya lilin, terciptalah suasana yang tenang, sakral, dan agung, cocok untuk foto-foto emosional yang menginginkan kedalaman dan ketenangan.

Selain itu, terdapat pula vihara kecil yang menyimpan arca Buddha batu hijau dari zaman Dvaravati, menjadi titik yang menghubungkan Ayutthaya dengan seni arsitektur periode sebelumnya. Ini menjadikan kuil ini berharga baik sebagai tempat ibadah maupun sebagai ruang kelas sejarah yang masih bernapas.

2. Wat Mahathat Phra Nakhon Si Ayutthaya

Wat Mahathat adalah tengaran penting Ayutthaya dan merupakan titik di mana pengunjung sering berhenti terkesima saat melihat kepala arca Buddha dari batu pasir yang terjalin dalam akar pohon beringin. Gambar ini bukan hanya sudut foto populer, tetapi juga simbol pelukan antara alam, keyakinan, dan waktu yang telah berlalu selama berabad-abad.

Akar-akar pohon yang perlahan memeluk kepala arca seolah alam merawat benda suci setelah ibu kota runtuh, menjadikan gambar ini memiliki kesedihan, kelembutan, dan kesakralan secara bersamaan. Untuk fotografi, sebaiknya membungkuk atau berjongkok di bawah tingkat kepala arca untuk menunjukkan rasa hormat sesuai tradisi Thailand, dan juga membantu foto terlihat lebih rendah hati, tenang, dan indah.

Ketika terus berjalan ke dalam area situs bersejarah, Anda akan melihat reruntuhan prang, chedi, dan deretan bata tua, yang melengkapi perasaan berada di tengah pusat spiritual Ayutthaya di masa lalu.

3. Jembatan Pa Dinso

Jembatan Pa Dinso adalah titik kecil yang menawan bagi mereka yang menyukai kota tua dalam sudut yang tenang, tidak ramai, dan memiliki cerita tersembunyi. Jembatan bata berbentuk lengkungan dengan puncak runcing ini adalah jejak jalur transportasi di area Pa Dinso, yang dulunya merupakan komunitas pengrajin dan pusat perdagangan yang berkaitan dengan kapur barus, alat tulis, dan buku lontar.

Melangkah melewati jembatan ini bukan hanya melihat reruntuhan bata tua, tetapi seperti sedang berjalan di atas jejak kehidupan sehari-hari di Ayutthaya. Area ini dulunya ramai dengan orang-orang, pengrajin, barang dagangan, dan perjalanan yang terhubung secara hidup.

Pesona jembatan ini terletak pada kesederhanaannya: bentuk melengkung, garis-garis bata tua, dan suasana yang tidak banyak diubah. Sangat cocok untuk fotografi situs bersejarah yang tenang, menggunakan cahaya alami, bayangan, dan tekstur bata tua sebagai pencerita.

4. Wat Phra Ngam Gerbang Waktu

Wat Phra Ngam, atau “Gerbang Waktu”, adalah salah satu titik yang paling jelas menyampaikan konsep menembus waktu ke masa lalu. Lengkungan gerbang bata kuno dari kuil yang telah runtuh dipeluk oleh akar-akar pohon besar, baik akar pohon beringin maupun ara yang telah menembus batu bata selama ratusan tahun, hingga menjadi bingkai gerbang alami yang indah dan magis.

Waktu yang paling indah adalah sekitar pukul 16:00 – 17:30, ketika cahaya matahari sore memancarkan warna keemasan melalui celah lengkungan gerbang. Cahaya, bayangan, akar pohon, dan bata tua akan menyatu membentuk gambar yang tampak seperti pintu penghubung antara masa kini dan masa lalu. Sangat cocok untuk penggemar fotografi yang menyukai cahaya sore, nuansa hangat, dan gambar yang memiliki dimensi emosional.

Keindahan Wat Phra Ngam tidak terletak pada kemegahannya, tetapi pada ritme alam yang perlahan menelan dan memeluk arsitektur lama. Ini adalah tempat yang harus dikunjungi dengan tenang, meluangkan waktu untuk mengamati perubahan cahaya, dan membiarkan Ayutthaya menceritakan kisahnya sendiri.

5. Wat Mae Nang Pleum

Wat Mae Nang Pleum adalah kuil tua di luar pulau kota yang memiliki kesakralan, ketenangan, dan cerita hangat yang tersembunyi dalam namanya. Legenda menceritakan bahwa “Mae Nang Pleum” adalah seorang wanita biasa yang murah hati, pernah menyambut dan menawarkan makanan kepada Raja Naresuan Agung ketika ia berlayar dan menghadapi badai, tanpa mengetahui bahwa pengunjungnya adalah seorang raja. Kemudian, Raja memerintahkan pembangunan kuil untuk mendedikasikan jasa dan mengenang kebaikan hati Mae Nang Pleum.

Kisah ini menambahkan kelembutan dan keharuan pada tempat tersebut. Dari yang semula banyak orang mungkin merasa bahwa lengkungan gerbang masuk memiliki suasana misterius seperti gerbang dimensi, mereka kini akan melihat sisi lain dari kuil tersebut, yaitu rasa syukur, kebaikan hati, dan kenangan yang terus diceritakan hingga saat ini.

Fitur utama di dalam kuil adalah chedi berbentuk lonceng yang dikelilingi oleh 36 patung singa plester kuno di bagian dasarnya, memberikan pemandangan yang anggun dan berbeda dari kuil lain di Ayutthaya. Di dalamnya juga terdapat Luang Pho Khao untuk dipuja di vihara tua. Suasana keseluruhan adalah alami, tenang, dan sakral, cocok untuk mengakhiri perjalanan dengan tempat yang memiliki sejarah, legenda, dan perasaan hangat.

Secara keseluruhan, rute "5 Destinasi Check-in Menjelajahi Masa Lalu Ayutthaya" cocok untuk perjalanan setengah hingga satu hari. Ini bisa diatur sebagai tur fotografi, tur ziarah, atau tur penceritaan kota tua. Daya tarik utama koleksi ini adalah membawa para pelancong untuk merasakan Ayutthaya dari sudut pandang yang memiliki keindahan, kesakralan, dan detail sejarah. Ini bukan hanya sekadar check-in dan mengambil foto, tetapi secara perlahan membaca kisah kota tua melalui cahaya, bayangan, bata, akar pohon, dan keyakinan yang tidak pernah pudar.

Kuil Phra Ngam - Gerbang Waktu (Phra Ngam Temple - Gate of Time), juga dikenal sebagai “Wat Charam,” adalah kuil yang ditinggalkan yang terletak di utara Pulau Ayutthaya di daerah Khlong Sra Bua. Kuil ini memiliki makna sejarah dan arkeologi yang besar dan diyakini telah dibangun pada awal periode Ayutthaya. Ini mencerminkan perluasan komunitas dan penyebaran agama Buddha di lu...
read more
Candi Mahathat (Mahathat Temple) adalah salah satu candi terpenting di Ayutthaya, yang berfungsi sebagai pusat keagamaan dan spiritual Kerajaan Ayutthaya. Candi ini dibangun pada masa pemerintahan Raja Borommarachathirat I (Khun Luang Phangua) dengan tujuan untuk mengabadikan relik Buddha dan berfungsi sebagai tempat tinggal Patriark Agung sekte Kamavasi, otoritas gerejawi tertinggi p...
read more
Kuil Na Phra Meru (Na Phra Meru Temple) , umumnya dikenal sebagai Wat Na Phra Meru, terletak di sepanjang Kanal Sa Bua di sisi utara parit kota Ayutthaya, yang sebelumnya merupakan Sungai Lopburi, tepat di seberang Istana Kerajaan. Lokasinya mencerminkan hubungan eratnya dengan upacara kerajaan dan istana sejak periode awal Ayutthaya. Kuil ini dibangun pada tahun 1503 M (B.E. 2046) selama era Ayut...
read more
Jembatan Pa Din Sor (Pa Din Sor Bridge) adalah jembatan penyeberangan kanal kuno yang terletak di dalam Taman Sejarah Ayutthaya. Dibangun selama periode Ayutthaya untuk berfungsi sebagai jalur transportasi yang menghubungkan komunitas, pusat perdagangan, dan area administratif yang terintegrasi ke dalam jaringan kanal kota yang luas. Nama “Pa Din Sor” berasal dari distrik terdekat yang dulunya me...
read more
Kuil Mae Nang Pluem (Mae Nang Pluem Temple)  adalah kuil kuno yang dipenuhi pesona spiritual, terletak di utara Pulau Ayutthaya. Diyakini telah didirikan sekitar tahun 1920 BE selama periode awal Ayutthaya. Di luar nilai arsitekturnya, kuil ini sangat terkenal karena legenda dan kepercayaan yang telah diturunkan selama berabad-abad. Signifikansi Kuil Mae Nang Pluem terkait erat dengan legenda dari...
read more

Restoran terdekat