“Berjalan-jalanlah di gang-gang sempit untuk mengagumi seni jalanan yang mencerminkan cara hidup produsen Miang (teh fermentasi), di tengah cuaca sejuk sepanjang tahun dan tanaman hijau subur dari hutan kuno yang mengelilingi desa”
Seni Jalanan Desa Ban Pa Miang (Street Art Ban Pa Miang Village) Ban Pa Miang adalah sebuah desa kecil yang terletak tinggi di pegunungan di dalam Taman Nasional Chae Son. Secara tradisional, desa ini terkenal dengan produksi "Miang" (daun teh liar), yang telah menjadi pekerjaan utama penduduk desa selama beberapa generasi. Untuk mempromosikan pariwisata kreatif, proyek Seni Jalanan lahir dari kolaborasi antara seniman dan mahasiswa seni yang menciptakan mural di dinding rumah kayu dan pagar beton di seluruh desa. Alasan utama menggunakan seni jalanan adalah untuk menciptakan landmark yang menarik bagi generasi muda, memungkinkan mereka untuk mengalami gaya hidup tradisional yang mungkin terlupakan melalui garis dan warna yang sederhana namun bermakna.
Seni jalanan di sini unik karena menggunakan konteks area tersebut sebagai tema utamanya. Anda akan melihat lukisan orang tua memilah daun teh, anak-anak bermain di kebun teh, dan bunga Dok Siao (Bauhinia) yang mekar setiap bulan Februari. Gambar-gambar ini tersebar di seluruh rumah tinggal yang sebenarnya, membuat tur seni terasa seperti berjalan-jalan di museum hidup. Setiap lukisan berhubungan dengan pemilik rumah dan masyarakat sekitar. Selain mural, pengunjung dapat merasakan suasana damai dengan aliran sungai yang mengalir melalui desa dan udara sejuk sepanjang tahun sebuah perpaduan sempurna antara seni modern dan pesona komunitas lembah kuno.
Kunjungan ke Pa Miang lebih dari sekadar kesempatan berfoto ini adalah kesempatan untuk mempelajari kebijaksanaan produksi Miang mulai dari panen dan pengukusan hingga fermentasi. Pengunjung juga dapat berbelanja produk olahan seperti bantal daun teh yang sehat atau mencicipi hidangan lokal yang menampilkan daun teh. Ini membuktikan bahwa seni dapat menambah nilai bagi masyarakat dan membantu melestarikan cerita lokal di dunia modern.
Pesona memikat lainnya adalah jalur seni yang menghubungkan setiap gang dengan kehidupan sederhana dan otentik penduduk desa. Anda mungkin melihat asap lembut dari gubuk pengukusan teh naik untuk memenuhi mural yang menggambarkan proses itu sendiri. Di sepanjang jalan setapak, suara aliran sungai yang mengalir melalui jantung masyarakat memperkaya suasana yang menyenangkan dan tenang. Setiap karya seni ditempatkan untuk selaras dengan flora lokal, memungkinkan lukisan menjadi hidup saat cahaya dan bayangan bergeser melalui pepohonan hutan. Yang terpenting, keramahan tulus dari orang-orang Pa Miang yang selalu siap menyapa dan berbagi cerita di balik mural dengan senyum tulus memastikan bahwa ini bukan hanya tempat berfoto, tetapi tujuan yang menyentuh hati para pelancong melalui kerendahan hati manusia dan alam.
Cara Menuju ke Sana
-
Mobil Pribadi: Dari kota Lampang, ambil Jalan Raya 1035 (Lampang-Chae Hom) menuju Taman Nasional Chae Son. Dari pintu masuk taman, terus menanjak (menuju Kiew Fin) sejauh sekitar 10 km. Jalannya sangat curam, berliku-liku, dan sempit; pengemudi berpengalaman sangat disarankan.
-
Transportasi Umum: Tidak ada transportasi umum langsung ke desa. Disarankan untuk menyewa van/truk pribadi dari kota Lampang atau Distrik Mueang Pan, atau menggunakan layanan antar-jemput yang disediakan oleh homestay desa.
Perjalanan
-
Etika Masyarakat: Karena sebagian besar mural berada di dinding rumah tinggal pribadi, harap bersikap hormat, jaga tingkat kebisingan tetap rendah, dan mintalah izin sebelum mengambil foto jika pemiliknya ada.
-
Cuaca: Terletak di dataran tinggi, suhu biasanya 5-10°C lebih dingin dari dataran rendah. Bawalah jaket bahkan selama musim panas.
-
Waktu yang Disarankan: Februari adalah waktu yang paling indah karena adanya "Festival Mekar Dok Siao" (Bauhinia), di mana warna bunga sangat kontras dengan seni jalanan.
Biaya Masuk:
-
Masuk Gratis.
Jam Buka:
-
Buka Setiap Hari: 08:00 – 17:00 (Untuk menghormati privasi dan waktu istirahat penduduk desa di malam hari).