“Sebuah stupa bata kuno besar di area Mahet, menampilkan lorong interior yang menyerupai terowongan. Bangunan ini menonjol dengan konstruksi dari berbagai era dan menawarkan pemandangan panorama Shravasti kuno.”
Stupa Angulimala (Stupa Angulimala), atau secara lokal dikenal sebagai Pakki Kuti, terletak di area Mahet, yang merupakan bagian dari Shravasti kuno, berbeda dari zona Sahet tempat Jetavana Mahavihara berada. Area ini memiliki signifikansi baik secara historis maupun religius. Stupa ini dibangun untuk mengenang Bhikkhu Angulimala, seorang mantan bandit besar yang bertobat, dan juga terhubung dengan daerah asal keluarga Brahmana.
Angulimala awalnya bernama Ahimsa. Dia adalah putra seorang Brahmana di istana kerajaan Raja Pasenadi dari Kosala, dan nama ibunya adalah Mantani. Dia cerdas dan belajar di Takshashila, di mana dia disukai oleh gurunya. Namun, karena kecemburuan sesama siswa, dia difitnah, menyebabkan gurunya menyusun rencana agar dia membunuh 1.000 orang. Ahimsa kemudian menjadi bandit, memotong jari-jari korbannya dan merangkainya menjadi kalung untuk dikenakan di lehernya, sehingga memberinya nama “Angulimala” dari kata Anguli (jari) dan Mala (kalung), yang berarti “Kalung Jari”.
Setelah dia membunuh 999 orang dan akan melakukan dosa yang lebih parah, dia bertemu Sang Buddha di daerah ini. Sebuah peristiwa penting terjadi di mana Sang Buddha berkata, “Saya telah berhenti, tetapi Anda belum berhenti,” sebuah ajaran mendalam tentang menghentikan kekotoran batin. Hal ini menyebabkan Angulimala merasa menyesal, memperoleh keyakinan, dan meminta penahbisan sebagai biksu, akhirnya mencapai Arahat di kemudian hari. Ada juga gatha penting yang disebut Angulimala Paritta.
Secara arkeologis, stupa ini dicirikan oleh struktur bata merah besar, dan penggalian telah mengungkapkan bahwa stupa ini dibangun berlapis-lapis selama beberapa periode, dari dinasti Mauryan hingga Kushan. Di dalamnya, terdapat lorong atau gua menyerupai terowongan yang diyakini telah digunakan untuk meditasi, dan pengunjung dapat menikmati pemandangan panorama Shravasti kuno dari atas.
Suasana sekitarnya damai dan tenang, cocok untuk meditasi, terutama selama pukul 07:00 – 09:00 pagi dan 16:00 – 17:30 sore ketika sinar matahari lembut indah menerangi bata-bata kuno. Namun, pengunjung disarankan membawa air, topi, atau payung karena beberapa area terbuka dan fasilitas terbatas.
Selain itu, seseorang dapat berjalan kaki ke Stupa Anathapindika (Kachchi Kuti) di dekatnya untuk melihat situs kuno penting lainnya dan mendapatkan gambaran keseluruhan yang lebih jelas tentang Shravasti. Tempat ini merupakan situs arkeologi dan juga simbol pengampunan, transformasi hidup, dan kekuatan Dharma.
Cara Menuju ke Sana
- Dengan Pesawat: Mendarat di Bandara Lucknow, kemudian menyewa mobil ke Shravasti, yang memakan waktu sekitar 4–5 jam (170 km).
- Dengan Kereta Api: Turun di stasiun Balrampur (terdekat), kemudian naik taksi/becak motor (auto-rickshaw) selama sekitar 20–30 menit.
- Dengan Mobil/Kendaraan Pribadi: Dari Jetavana Mahavihara, berkendara sepanjang Jalan Mahet selama sekitar 1–2 km.
- Transportasi Lokal: Gunakan becak motor (auto-rickshaw) atau kendaraan roda tiga dari kota Shravasti; nyaman dan ekonomis.
Perjalanan
- Disarankan untuk berkunjung selama pukul 07:00 – 09:00 pagi atau 16:00 – 17:30 sore untuk menghindari panas dan menikmati cahaya yang indah.
- Siapkan air minum yang cukup karena area ini luas dan toko-toko sedikit.
- Disarankan untuk memakai topi atau membawa payung matahari karena sebagian besar area terbuka.
- Anda harus berjalan kaki untuk mengunjungi Stupa Kachchi Kuti di dekatnya untuk mencakup semua situs penting.
- Cocok bagi mereka yang ingin bermeditasi, berziarah, dan mempelajari sejarah Buddha.
Biaya Masuk:
- Pemegang Paspor ASEAN (termasuk Indonesia): Sekitar 20–25 INR (paspor diperlukan).
- Warga Negara Asing Lainnya: Sekitar 300–600 INR.
Jam Buka:
- Buka setiap hari: 06:00 – 17:00 (atau dari matahari terbit hingga matahari terbenam).