“Istana bersejarah Putri Dara Rasmi, ditandai dengan arsitektur Lanna-Barat dan pameran tekstil.”
Museum Istana Dara Phirom (Museum Istana Dara Phirom) adalah bekas istana Putri Permaisuri Dara Rasmi, putri Chao Inthawichayanon, Penguasa Chiang Mai ke-7, dan permaisuri Raja Chulalongkorn (Rama V). Beliau adalah tokoh penting dalam sejarah Lanna selama transisi menuju penyatuan Siam modern. Beliau berperan dalam menghubungkan istana kerajaan Chiang Mai dan istana kerajaan Siam, sambil melestarikan identitas, bahasa, tradisi, serta seni dan budaya Lanna.
Istana ini dibangun pada tahun 1914 B.E. (1914) setelah Putri Permaisuri Dara Rasmi kembali untuk tinggal permanen di Chiang Mai menyusul wafatnya Raja Chulalongkorn pada tahun 1910 B.E. (1910). Saat itu, daerah Mae Rim adalah lahan pertanian yang subur dengan iklim sejuk dan menyenangkan. Oleh karena itu, beliau memilihnya sebagai tempat tinggalnya dan sebagai tempat untuk melaksanakan pekerjaan terkait pertanian, pendidikan, dan promosi cara hidup masyarakat setempat.
Nama “Dara Phirom” terkait dengan nama Putri Permaisuri Dara Rasmi. Kata “Dara” berarti bintang, sedangkan “Phirom” berarti kegembiraan, kesenangan, atau keindahan. Istana ini oleh karena itu dapat diartikan sebagai tempat kegembiraan bagi seorang bintang, sekaligus mencerminkan nama kerajaan yang sangat dihormati oleh masyarakat Lanna.
Istana ini adalah bangunan dua lantai setengah bata, setengah kayu, dicat dengan warna krem cangkang telur. Dirancang dengan arsitektur gaya kolonial Barat yang populer pada masa pemerintahan Raja Rama V, dipadukan dengan elemen Lanna dan kearifan konstruksi tropis, seperti beranda lebar, bukaan ventilasi, jendela tinggi, dan atap yang dirancang untuk sirkulasi udara yang baik. Bangunan ini terkenal karena tata letaknya yang proporsional, termasuk area resepsi, tempat pribadi, dan ruang fungsional untuk para pelayan kerajaan.
Di dalam museum, berbagai ruangan telah diatur untuk mencerminkan suasana aslinya, termasuk kamar tidur, kamar mandi, ruang tamu, ruang makan, dan ruang pameran untuk barang-barang pribadi. Interiornya mempertahankan perabot antik, peralatan kaca, lemari kayu, meja rias, potret bersejarah, dan benda-benda yang mencerminkan gaya hidup kelas atas Lanna selama awal abad ke-20. Pengunjung oleh karena itu dapat melihat detail kehidupan sehari-hari di dalam istana, termasuk selera yang memadukan budaya Lanna dengan istana kerajaan Siam.
Salah satu fitur utama museum adalah pameran tekstil dan kostum Lanna, menampilkan pakaian kerajaan, rok tabung teen jok, rok tabung lai kham, dan tekstil tenun lokal dengan pola detail halus. Putri Permaisuri Dara Rasmi memainkan peran penting dalam mendorong para penenun Lanna untuk melestarikan pengetahuan tradisional mereka. Beliau juga mendukung adaptasi tekstil tenun lokal untuk digunakan di istana kerajaan dan kehidupan sehari-hari, memungkinkan tekstil Lanna mendapatkan pengakuan luas dan menjadi warisan budaya yang tetap berharga hingga saat ini.
Beliau juga menaruh perhatian pada pertanian dan peningkatan kualitas hidup masyarakat setempat. Lahan di sekitar istana digunakan sebagai lahan percobaan untuk tanaman iklim sejuk, pohon buah-buahan, tanaman kebun, dan berbagai tanaman ekonomi, untuk mempelajari kesesuaian tanah dan iklim Mae Rim. Hasil percobaan ini membantu mempromosikan pengetahuan pertanian di kalangan masyarakat lokal dan mencerminkan visinya untuk memungkinkan masyarakat menjadi mandiri secara berkelanjutan.
Di sekitar istana terdapat Taman Mawar Chulalongkorn, menampilkan mawar merah muda besar yang tidak berduri dan harum. Putri Permaisuri Dara Rasmi memperbanyak mawar ini dan memberinya nama ini untuk mengenang suaminya yang agung. Taman ini bukan hanya tempat yang indah untuk bersantai, tetapi juga simbol ikatan antara beliau dan Raja Chulalongkorn. Ini juga merupakan spot foto penting di museum, terutama saat mawar sedang mekar.
Setelah Putri Permaisuri Dara Rasmi wafat pada tahun 1933 B.E. (1933), istana ini dirawat dan perannya berubah seiring waktu. Kemudian, Universitas Chulalongkorn bertanggung jawab atas pemulihan dan pengembangannya sebagai museum, dengan tujuan melestarikan bangunan bersejarah, mengumpulkan bukti terkait kehidupannya, dan mewariskan kisah Lanna kepada generasi mendatang. Pemulihan berfokus pada pelestarian bentuk asli istana, bersama dengan pameran yang membantu pengunjung memahami konteks sejarah secara sistematis.
Museum Istana Dara Phirom oleh karena itu bukan hanya tempat yang mengumpulkan barang antik. Ini adalah ruang belajar yang mencerminkan sejarah hubungan antara Siam dan Lanna, peran wanita di istana kerajaan, pelestarian tekstil tenun lokal, dan ide-ide untuk pengembangan masyarakat melalui pertanian. Sangat cocok untuk pengunjung yang tertarik pada sejarah, seni dan budaya, arsitektur, dan mereka yang ingin merasakan suasana istana bersejarah di Mae Rim, Chiang Mai.
Cara Menuju ke Sana
-
Dengan Mobil Pribadi: Dari kota Chiang Mai, ambil Jalan Chiang Mai–Fang, atau Jalan Raya No. 107, menuju Distrik Mae Rim. Ketika Anda mencapai area Kantor Distrik Mae Rim, cari pintu masuk Markas Besar Polisi Perbatasan Wilayah ke-5 di sisi kiri. Ada rambu-rambu yang jelas mengarahkan pengunjung ke Museum Istana Dara Phirom. Anda dapat masuk dan parkir di area parkir di depan museum.
-
Dengan Transportasi Umum: Naik songthaew kuning rute Chiang Mai–Mae Rim, atau kendaraan lokal menuju Distrik Fang. Turun di pintu masuk Markas Besar Polisi Perbatasan Wilayah ke-5, lalu berjalan kaki sebentar ke museum.
Perjalanan
- Lepaskan sepatu Anda sebelum memasuki istana untuk membantu melindungi area pameran dan barang antik berharga.
- Dilarang mengambil foto dan merekam video di dalam gedung, tetapi Anda boleh mengambil foto di luar istana dan di taman mawar.
- Berpakaianlah dengan sopan dan pantas; hindari celana pendek di atas lutut, atasan tanpa lengan, dan atasan tali spageti.
- Alokasikan sekitar 45–60 menit untuk kunjungan Anda untuk menjelajahi detail pameran secara menyeluruh.
- Gabungkan kunjungan Anda dengan atraksi Mae Rim lainnya, seperti Air Terjun Mae Sa, Kebun Raya Queen Sirikit, dan Mon Jam.
Biaya Masuk:
- Dewasa: 20 THB
- Anak-anak / Pelajar (berseragam): 10 THB
- Biksu / Penyandang Disabilitas: Masuk gratis
Jam Buka:
- Buka Selasa–Minggu pukul 09:00–16:30
- Tutup setiap Senin
- Catatan: Hari dan jam buka dapat berubah pada hari libur nasional atau selama acara khusus. Harap periksa informasi terbaru sebelum berkunjung.