“Kompleks kuil Warisan Dunia UNESCO yang menampilkan pagoda kayu tertua yang masih ada di Kyoto, taman kekaisaran, dan rute ziarah gunung suci.”
Kuil Daigo-ji adalah salah satu kuil terpenting dari sekte Shingon Buddhisme. Didirikan pada tahun 874 M, kuil ini kemudian menjadi tidak terpisahkan dari sejarah politik dan budaya Jepang ketika Toyotomi Hideyoshi, salah satu panglima perang paling kuat di negara itu, mengangkat Daigo-ji menjadi simbol besar otoritas elit, cita rasa estetika, dan perayaan musiman. Saat ini, terdaftar sebagai Situs Warisan Dunia UNESCO sebagai bagian dari Monumen Bersejarah Kyoto Kuno.
Kompleks kuil dibagi menjadi dua area utama: Shimo-Daigo (Daigo Bawah), area utama bagi pengunjung, dan Kami-Daigo (Daigo Atas), situs suci asli yang terletak jauh di pegunungan.
Shimo-Daigo: Rute Jalan Kaki Utama
Kunjungan dimulai di Gerbang Niomon, gerbang vermilion dua lantai yang megah yang menandai pintu masuk ke kawasan kuil pusat (Garan). Di dalamnya berdiri dua Patung Penjaga Nio (Vajrapani) yang kuat yang berasal dari abad ke-12, yang dipercaya melindungi tempat-tempat suci dari pengaruh jahat.
Tepat di luar gerbang menjulang struktur paling ikonik Daigo-ji: Pagoda Lima Lantai (Goju-no-to). Selesai pada tahun 951 M, pagoda kayu setinggi 38 meter ini diakui sebagai bangunan kayu tertua yang masih ada di Kyoto. Setelah bertahan dari kebakaran, perang, dan bencana alam selama lebih dari seribu tahun, ia berdiri sebagai simbol kuil yang abadi. Lima tingkatnya mewakili unsur-unsur Buddhis tanah, air, api, angin, dan kehampaan, mencerminkan tatanan kosmik di jantung Buddhisme Esoteris.
Di dekatnya berdiri Kondo (Aula Emas), pusat spiritual kuil dan Harta Nasional yang ditetapkan. Struktur saat ini dipindahkan dari Wakayama pada tahun 1600 di bawah komando Toyotomi Hideyoshi. Diabadikan di dalamnya adalah patung Buddha Obat-obatan, Yakushi Nyorai, yang dihormati karena penyembuhan dan perlindungan.
Lebih jauh di dalam Shimo-Daigo terletak Aula Bentendo, sebuah bangunan vermilion brilian yang didedikasikan untuk Benzaiten, dewi musik dan seni. Aula ini terletak di sebuah pulau kecil di sebuah kolam, terhubung oleh jembatan lengkung merah yang elegan. Selama musim gugur, daun maple yang berapi-api terpantul di permukaan air, menciptakan salah satu pemandangan musiman Kyoto yang paling terkenal.
Sanbō-in: Kediaman Kepala Biara (Zona Depan Terpisah)
Terletak di dekat bagian depan kompleks dan tidak berada di rute ke Kami-Daigo, Sanbō-in adalah bekas kediaman kepala pendeta kuil. Pintu masuk adalah melalui Gerbang Sanbō-in Karamon, Harta Nasional yang dulunya dicadangkan secara eksklusif untuk utusan kekaisaran. Gerbang ini dilapisi pernis hitam dan dihiasi dengan puncak daun emas dari Krisan Kekaisaran dan lambang Paulownia dari keluarga Toyotomi, yang melambangkan hubungan dekat kuil dengan elit penguasa Jepang.
Di dalamnya terletak Taman Sanbō-in, yang ditetapkan sebagai Tempat Pemandangan Khusus dan dirancang sendiri oleh Toyotomi Hideyoshi. Taman ini dimaksudkan untuk dilihat dari aula resepsi Omote-shoin, daripada berjalan-jalan dengan bebas. Fiturnya yang paling terkenal adalah Batu Fujito, batu persegi panjang besar yang dibeli dengan harga yang sangat mahal, cukup legendaris untuk dirujuk dalam teater Noh klasik. Air terjun, pulau-pulau simbolik, dan batu-batu yang ditempatkan dengan hati-hati menciptakan lanskap yang kaya akan simbolisme politik dan estetika halus.
Kami-Daigo: Asal Usul Gunung
Dari Shimo-Daigo, jalan setapak terpisah mengarah ke atas ke Kami-Daigo, situs suci asli di Gunung Daigo. Mencapai area ini membutuhkan pendakian curam sekitar satu jam melalui jalan setapak pegunungan berhutan. Di puncak, pengunjung menemukan aula kayu kuno dan suasana yang tenang dan sangat spiritual, menawarkan kontras yang mendalam dengan kemegahan kompleks yang lebih rendah dan hubungan yang lebih dekat dengan asal-usul kuil.
Cara Menuju ke Sana
Subway
- Naik Jalur Tozai Subway Kyoto ke Stasiun Daigo (T03). Dari stasiun, berjalanlah sekitar 10–15 menit ke pintu masuk kuil.
Bus Langsung dari Stasiun Kyoto
- Keihan Bus (Yamashina Express) mengoperasikan layanan langsung dari Stasiun Kyoto (Pintu Keluar Hachijo) ke halte bus Daigo-ji, memakan waktu sekitar 30–40 menit.
Perjalanan
-
Mulailah di Shimo-Daigo, lalu lanjutkan ke Sanbō-in, dan selesaikan dengan Kami-Daigo untuk mengikuti urutan sejarah dan fisik yang benar.
-
Kenakan sepatu berjalan yang nyaman jika Anda berencana mendaki ke Kami-Daigo.
-
Musim bunga sakura (akhir Maret–awal April) sangat populer; datanglah lebih awal.
-
Fotografi mungkin dibatasi di dalam aula tertentu—perhatikan rambu dengan cermat.
Biaya Masuk:
-
Shimo-Daigo & Sanbō-in: Biaya masuk berbayar (biaya bervariasi menurut musim)
-
Kami-Daigo: Diperlukan biaya masuk terpisah
Waktu Buka:
-
Umumnya 9:00 AM – 5:00 PM (entri terakhir lebih awal di musim dingin; jam buka bervariasi menurut area dan musim)