Kuil Intharam (Intharam Temple), yang dikenal secara lokal sebagai “Wat Taluk,” adalah biara kerajaan kuno yang terletak di tepi kiri Sungai Chao Phraya di Distrik Sapphaya, Provinsi Chainat. Diyakini telah didirikan sekitar tahun 1847 (B.E. 2390) selama periode awal Rattanakosin. Selama beberapa generasi, kuil ini telah berfungsi sebagai pusat spiritual dan budaya bagi masyarakat tepi sungai. Selain menjadi tempat upacara keagamaan, dulunya merupakan sekolah bahasa Pali yang terkenal, menarik para biksu dan novis dari berbagai daerah. Keunggulan pendidikan ini menyebabkan pembangunan banyak bangunan permanen yang dibuat dengan baik dan bernilai sejarah untuk mendukung studi dan praktik keagamaan.
Permata kuil ini adalah Balai Kitab Suci di Atas Air (Ho Phra Trai Pitaka Klang Nam)—bangunan kayu tradisional Thailand berukuran lebar sekitar 8 meter dan panjang 9 meter, berdiri anggun di tengah kolam. Membangun aula di atas air adalah solusi praktis untuk melindungi manuskrip daun palem suci dari rayap dan serangga. Bangunan ini dihiasi dengan hiasan chofa yang elegan, ornamen bai raka, dan atap pelana berukir rumit yang dihiasi dengan kaca berwarna yang masih berkilauan indah di bawah sinar matahari. Di dalamnya, banyak manuskrip daun palem yang bertuliskan aksara Khmer kuno disimpan dengan hati-hati, mewakili harta intelektual dan agama yang langka.
Fitur arsitektur mencolok lainnya adalah Menara Lonceng Kembar, terletak di depan aula penahbisan. Menara-menara ini dirancang dalam bentuk persegi dua belas sudut dan dihiasi dengan pola plesteran halus yang memadukan pengaruh seni Thailand dan Tiongkok. Di dalam lingkungan kuil, pengunjung juga akan menemukan paviliun Tiongkok berusia seabad, yang mencerminkan pertukaran budaya dan hubungan perdagangan historis antara Thailand dan Tiongkok. Bersama-sama, struktur ini menciptakan suasana yang kaya akan warisan dan ketenangan di sepanjang tepi sungai.
Kompleks kuil mencakup aula penahbisan asli yang mempertahankan struktur tradisionalnya dan aula yang lebih baru yang berusia lebih dari satu abad. Diabadikan di dalamnya adalah “Luang Pho To,” sebuah patung Buddha yang dihormati yang sangat dihormati oleh masyarakat setempat. Para pemuja datang untuk memberi penghormatan dan mencari berkah untuk kemakmuran, perlindungan, dan kedamaian pikiran.
Bagi sejarawan, penggemar seni, dan fotografer, Kuil Intharam menawarkan wawasan mendalam melalui ukiran kayu dan pengerjaan plesteran yang dilestarikannya. Kolam di sekitar aula kitab suci memberikan latar fotografi yang sangat atmosfer, terutama di pagi hari ketika sinar matahari yang lembut memantul dari kaca berwarna, atau di sore hari ketika bayangan pohon membentang lembut di atas air.
Kuil Intharam lebih dari sekadar kuil tepi sungai tua; itu adalah situs warisan budaya yang dilestarikan dengan hati-hati oleh komunitas Taluk. Pengunjung diundang dengan hangat untuk mengalami keindahan abadi, menghormati Luang Pho To untuk berkah keberuntungan, dan menghargai warisan sejarah dan seni yang tak ternilai yang dilestarikan di Kuil Intharam di Provinsi Chainat.