“Kunjungi reruntuhan Gereja San Petro, gereja Kristen pertama di Thailand, dan saksikan penggalian luar biasa lebih dari 200 kerangka kuno di pemakaman bersejarah yang terpelihara dengan baik.”
Kampung Portugis (Portuguese Village) adalah situs bersejarah penting yang mencerminkan kontak awal Siam dengan negara-negara Barat. Asal-usulnya berasal dari masa pemerintahan Raja Ramathibodi II, ketika orang Portugis tiba di Ayutthaya pada tahun 1511 M (2054 BE) untuk menjalin hubungan diplomatik dan perdagangan. Mereka adalah bangsa Eropa pertama yang menjalin hubungan resmi dengan Siam, dan daerah itu diberikan izin kerajaan untuk pemukiman Portugis, yang akhirnya berkembang menjadi komunitas tepi sungai yang besar di sepanjang Sungai Chao Phraya.
Di masa lalu, Kampung Portugis adalah rumah bagi beberapa ribu penduduk. Orang Portugis memainkan peran penting sebagai pedagang, pelaut, dan tentara sukarela, terutama sebagai musketeer terampil yang memperkuat tentara Ayutthaya. Pengetahuan mereka yang maju tentang senjata api, pembuatan kapal, dan navigasi sangat berkontribusi pada kemampuan militer dan perdagangan internasional Kerajaan Ayutthaya.
Monumen terpenting di dalam area tersebut adalah Situs Arkeologi San Pedro, sebuah gereja Dominikan yang pernah menjadi pusat keagamaan komunitas Kristen. Saat ini, hanya fondasi dan bagian dari dinding yang tersisa, namun tata letak bergaya Barat aslinya masih terlihat jelas. Penggalian arkeologi mengungkap banyak situs pemakaman dan kerangka manusia yang terpelihara dengan baik yang disusun di dalam dan di sekitar gereja. Diyakini bahwa kerangka yang terletak di area terdalam adalah milik para imam atau tokoh terkemuka komunitas.
Berbagai artefak juga telah ditemukan, yang mencerminkan kehidupan sehari-hari dan kepercayaan para pemukim Portugis, termasuk salib, medali keagamaan, pipa tembakau, keramik, dan barang-barang rumah tangga. Temuan ini mengkonfirmasi pemukiman permanen dan integrasi budaya antara tradisi Barat dan masyarakat Ayutthaya.
Suasana di sekitar Kampung Portugis tenang, rindang, dan diresapi dengan rasa mistik sejarah. Terletak di luar pulau utama Ayutthaya, situs ini relatif tenang, memungkinkan pengunjung untuk menjelajahi reruntuhan dari dekat dan dengan saksama. Area ini juga menampilkan bangunan pameran permanen yang menyajikan sejarah hubungan Thailand-Portugis dan pengaruh budaya abadi yang berlanjut hingga saat ini.
Salah satu warisan pengaruh Portugis yang paling terlihat adalah makanan penutup tradisional Thailand yang berasal dari Portugis, seperti Thong Yip, Thong Yod, dan Foi Thong. Manisan ini dikembangkan oleh Maria Guyomar de Pinha, yang dikenal dalam sejarah Thailand sebagai “Thao Thong Kip Ma,” seorang wanita keturunan Portugis yang memainkan peran penting di istana kerajaan Ayutthaya. Makanan penutup ini telah menjadi elemen berharga dari warisan kuliner Thailand dan melambangkan pertukaran pengetahuan antara kedua peradaban.
Oleh karena itu, Kampung Portugis adalah tujuan bersejarah yang sangat berharga, ideal bagi mereka yang tertarik dengan sejarah, arkeologi, dan masa lalu multikultural Ayutthaya. Ini juga menawarkan perspektif baru tentang peran Ayutthaya sebagai pusat utama yang menghubungkan dunia Timur dan Barat di masa lalu.
Cara Menuju ke Sana
Mobil Pribadi:
- Menyeberangi Jembatan Kasattrathirat ke tepi barat (arah yang sama dengan Wat Chaiwatthanaram). Ikuti Jalan 3469 menuju Samphao Lom; ada rambu yang jelas untuk Kampung Portugis.
Perahu Wisata:
- Menyewa perahu ekor panjang untuk perjalanan mengelilingi pulau kota dan berlabuh di dermaga desa adalah cara yang nyaman dan indah untuk tiba.
Tuk-Tuk:
- Tersedia dari kota; cukup minta Kampung Portugis (terletak di selatan pulau kota).
Perjalanan
Waktu Terbaik untuk Berkunjung:
- Pagi hari (09:00 – 11:00) atau sore hari untuk menghindari panas, karena sebagian besar situs arkeologi berada di luar ruangan.
Fotografi:
- Tempat foto utama termasuk fondasi bata Gereja San Petro dan penggalian kerangka yang dipajang.
Perencanaan:
- Kampung Portugis terletak tepat di seberang sungai dari Kampung Jepang. Ideal untuk mengunjungi keduanya pada hari yang sama untuk membandingkan gaya hidup pemukiman asing yang berbeda.
Kode Berpakaian:
- Karena situs tersebut mencakup pemakaman dan memiliki makna religius, mohon berpakaian sopan untuk menunjukkan rasa hormat.
Biaya Masuk
-
Pengunjung Thailand: 20 THB (Terkadang gratis tergantung periode)
-
Pengunjung Asing: 50 THB
Jam Buka
-
Buka setiap hari dari 08:00 – 18:00 (Gedung pameran mungkin tutup pada 16:30)