“Sorotan utama adalah melihat ratusan "kura-kura Pek," atau kura-kura kuning, berkeliaran dengan bebas di antara penduduk desa. Penduduk setempat percaya bahwa kura-kura adalah hewan suci (kura-kura penjaga), jadi mereka merawat dan memberi makan mereka dengan baik. Ini dianggap sebagai pengalaman belajar alam dan budaya yang langka.”
Kampung Kura-Kura (Turtle Village), atau Ban Kok, berdiri sebagai "museum alam hidup" yang mendalam dan mewakili salah satu contoh simbiosis manusia-satwa liar yang paling luar biasa di Asia Tenggara. Sejarah desa ini berasal dari lebih dari dua abad lalu pada era pendiriannya. Menurut catatan lokal, ketika nenek moyang asli bermigrasi ke daerah subur yang dikenal sebagai "Don Tao" (Kebun Kura-Kura), mereka terkejut menemukan ribuan kura-kura menduduki tanah tersebut, begitu banyak sehingga hampir tidak mungkin untuk berjalan tanpa bertemu satu pun. Menafsirkan ini sebagai pertanda ilahi, para pemukim mendirikan rumah mereka di sini dan menetapkan kura-kura sebagai "Makhluk Suci" atau "Pelayan Kakek." Ini menimbulkan tabu budaya yang kuat: menyakiti, memakan, atau memindahkan kura-kura dari desa sangat dilarang, karena diyakini akan membawa kesialan spiritual bagi pelakunya.
Secara biologis, "Tao Pek," atau Kura-Kura Memanjang (Indotestudo elongata), yang ditemukan di sini telah mengalami adaptasi perilaku yang unik terhadap kehidupan komunal. Selama musim hujan, desa ini dipenuhi dengan aktivitas saat ratusan kura-kura muncul untuk berkeliaran, sementara di musim kemarau atau dingin, mereka mundur ke liang di bawah rumah panggung atau di dalam hutan semak di sekitarnya untuk berestivasi. Makanan mereka terutama terdiri dari "Rumput Pek" (bambu kerdil lokal), jamur liar, dan buah-buahan yang jatuh. Kedalaman ikatan ini terlihat dalam ritual sehari-hari penduduk desa; banyak yang menempatkan mangkuk air dan nampan berisi sayuran sukulen di depan rumah mereka, memperlakukan kura-kura seperti anggota keluarga yang berharga. Tidak jarang menemukan kura-kura berkeliaran di dapur atau tidur siang di bawah tempat tidur seorang penduduk, dengan penghuni manusia dengan hati-hati menavigasi tugas sehari-hari mereka agar tidak mengganggu teman serumah reptil mereka.
Jantung spiritual dan komunal desa berpusat di sekitar "Kuil Chao Pu Mahesak" dan Kuil "Wat Chai Si". Situs-situs ini berfungsi sebagai titik pertemuan utama di mana kura-kura berkumpul dalam jumlah terbanyak. Pengunjung disuguhi pemandangan langka "Budaya Ekologis" dalam tindakan—pemandangan seperti biksu Buddha melantunkan mantra dengan kura-kura beristirahat dengan tenang di sekitar alas mereka, atau siswa desa setempat bertindak sebagai duta muda, mengajari wisatawan cara mengidentifikasi jenis kelamin kura-kura atau memperkirakan usianya berdasarkan cincin pertumbuhan pada perisainya. Selain itu, desa ini menyelenggarakan pusat pembelajaran khusus yang menyediakan data ilmiah dan penelitian tentang kura-kura memanjang, yang diakui secara internasional sebagai spesies yang terancam punah. Sementara jumlahnya berkurang secara global, populasi di Ban Kok tetap stabil dan berkembang, menjadikannya model global utama untuk konservasi satwa liar yang berkelanjutan dan dipimpin oleh masyarakat.
Cara Menuju ke Sana
- Dari pusat kota Khon Kaen, ambil Jalan Raya 2731 menuju Distrik Manjakiri. Setelah mencapai distrik tersebut, berkendara lurus menuju Kecamatan Suan Mon. Jarak dari ibu kota provinsi sekitar 50 kilometer. Ada rambu yang jelas di sepanjang jalan. Alternatifnya, Anda dapat menggunakan layanan bus Khon Kaen-Manjakiri.
Perjalanan
-
Yang terbaik adalah berkunjung pada sore hari (sekitar pukul 15:00 - 17:00), ketika matahari tidak terlalu panas dan kura-kura cenderung keluar dari tempat persembunyian mereka untuk mencari makan di bawah rumah atau di kuil.
-
Harap ikuti petunjuk pada rambu-rambu, seperti tidak menyentuh kura-kura atau membawanya keluar dari area tersebut.
-
Disarankan untuk menghubungi pemimpin masyarakat atau penduduk desa terlebih dahulu untuk berpartisipasi dalam kegiatan dan belajar tentang cara hidup mereka dengan tepat.
-
Harap berpakaian sopan dan tunjukkan rasa hormat terhadap budaya setempat.
Biaya Masuk:
- Gratis Masuk: Tidak ada biaya masuk untuk mengunjungi Kampung Kura-Kura. Ini adalah situs pariwisata berbasis komunitas yang menyambut semua pengunjung tanpa biaya.
Jam Buka:
- Buka setiap hari mulai pukul 08:00 hingga 18:00.