“Rumah bagi lebih dari 300 Nang Yai (wayang kulit besar) yang dibuat dengan rumit dan pusat bersejarah untuk patung Buddha yang diwarisi dari garis keturunan Ban Chang Lo tradisional.”
Kuil Sawang Arom (Sawang Arom Temple) , yang dikenal oleh penduduk setempat sebagai “Wat Bang Mon,” adalah kuil dan pusat budaya penting di Provinsi Sing Buri. Terletak di sepanjang tepi Sungai Chao Phraya di dalam komunitas yang telah lama berdiri, kuil ini memainkan peran penting dalam kehidupan beragama, warisan seni, dan pelestarian budaya. Kuil ini berfungsi sebagai pusat pembelajaran yang mencerminkan kearifan tradisional dan cara hidup yang diturunkan dari masa lalu hingga saat ini.
Kuil Sawang Arom terkenal secara nasional sebagai rumah bagi Museum Nang Yai, yang menyimpan salah satu koleksi wayang kulit Nang Yai tradisional terbaik dan terlengkap di Thailand. Setiap figur Nang Yai diukir dengan cermat dari kulit sapi oleh pengrajin ahli, menampilkan pola bunga dan karakter yang halus dari epos Ramakien. Wayang-wayang ini mewakili warisan budaya yang tak ternilai harganya yang diturunkan dari generasi ke generasi dan menjadi bukti langka dari tradisi pertunjukan seni tinggi klasik Thailand.
Selain Nang Yai, kuil ini juga merupakan pusat bagi pematung gambar Buddha terampil yang mewarisi keahlian mereka dari keluarga pengecoran tradisional di daerah Thonburi. Proses memahat dan mengecor secara ketat mengikuti metode tradisional yang membutuhkan keterampilan teknis, kesabaran, dan pengabdian agama yang mendalam. Pengunjung dapat mengamati dan mempelajari tentang pembuatan gambar Buddha, yang dengan jelas menggambarkan hubungan erat antara seni dan agama Buddha.
Di dalam aula penahbisan terdapat Luang Pho Rueang, gambar Buddha suci yang telah lama sangat dihormati oleh komunitas Bang Mon. Luang Pho Rueang berfungsi sebagai jangkar spiritual bagi penduduk setempat, yang datang untuk memberikan penghormatan dan berdoa untuk berkat, ketenangan pikiran, dan kesejahteraan. Pengabdian ini mencerminkan ikatan yang kuat antara kuil dan kehidupan sehari-hari masyarakat setempat.
Suasana di dalam kuil damai dan diresapi dengan rasa sakral. Lokasinya di tepi sungai memungkinkan angin sejuk mengalir sepanjang hari. Museum Nang Yai, yang terletak di aula khotbah, ditata dengan hati-hati dan teratur. Wayang kulit dipajang di depan layar putih dan diterangi dari belakang, memungkinkan pola ukiran yang rumit terlihat dengan jelas. Pengaturan ini menawarkan kepada pengunjung pengalaman artistik yang mendalam yang dikombinasikan dengan relaksasi di lingkungan yang tenang.
Bagi fotografer dan penggemar seni, Kuil Sawang Arom adalah situs yang berharga untuk mengabadikan citra budaya. Interaksi cahaya dan bayangan yang dihasilkan oleh wayang Nang Yai menciptakan kedalaman yang menarik, sementara adegan pengrajin berdedikasi yang memahat gambar Buddha dengan jelas mencerminkan akar dan semangat tradisi seni Thailand. Oleh karena itu, kuil ini menjadi sumber inspirasi bagi seniman, pelajar, dan pembelajar budaya dari seluruh negeri.
Kuil Sawang Arom bukan hanya kuil di tepi sungai, tetapi repositori hidup iman, seni, dan warisan budaya. Pengunjung diundang dengan hangat untuk menjelajahi keindahan Nang Yai dan untuk mengambil bagian dalam melestarikan warisan kerajinan Thailand yang terus berkembang di Provinsi Sing Buri.
Cara Menuju ke Sana
Mobil Pribadi:
- Dari kota Sing Buri, ambil Jalan Raya 309 (rute lama Sing Buri-Ang Thong) ke selatan sekitar 3 km (KM 94). Kuil ini terletak di tepi Sungai Chao Phraya.
Transportasi Umum:
- Bus lokal di rute Sing Buri-Ang Thong atau tuk-tuk dari Terminal Bus Sing Buri sudah tersedia.
Perjalanan
Waktu Terbaik untuk Berkunjung:
- Buka sepanjang tahun. Jika Anda ingin melihat latihan wayang, harap hubungi kuil terlebih dahulu untuk jadwalnya.
Pakaian:
- Harap berpakaian sopan. Disarankan untuk memakai kaus kaki jika Anda berencana untuk berjalan melalui museum di aula kayu.
Fotografi:
- Fotografi diperbolehkan, tetapi harap matikan lampu kilat Anda untuk membantu menjaga kondisi wayang kuno.
Sorotan Tambahan:
- Jangan lewatkan "Hong Thong," perahu panjang kuno yang pernah terkenal di Sing Buri, yang disimpan di halaman kuil untuk studi publik.
Biaya Masuk
-
Pengunjung lokal: Dewasa Gratis, Anak-anak Gratis
-
Pengunjung asing: Dewasa Gratis, Anak-anak Gratis
Jam Buka
-
Sen - Jum: 09:00 – 16:00
-
Sab - Min & Hari Libur Nasional: 08:30 – 17:00