“Kuil ini menyimpan patung Buddha berbaring sepanjang lebih dari 18 meter, yang sangat dihormati oleh masyarakat Sakon Nakhon. Selain itu, replika Phra That Phanom yang indah dan dibuat dengan rumit juga terletak di dalam area kuil.”
Wat Phutthasaiyaram, atau yang dikenal secara lokal sebagai Wat Phra Non, adalah tempat suci dengan makna spiritual dan kedalaman sejarah yang mendalam yang terletak di distrik Phanna Nikhom, Sakon Nakhon. Permata mahkota kuil ini adalah Buddha Berbaring (Luang Pho Phra Non) yang megah, sebuah patung emas besar yang membentang anggun di aula utama. Mahakarya seni Buddhis ini mewakili masuknya Buddha ke Nirvana, yang ditandai dengan ekspresi wajah yang tenang dan penuh kasih yang memikat semua pengunjung. Pengerjaan yang rumit mencerminkan perpaduan unik antara estetika regional Isan dan seni tradisional Thailand, menjadikannya salah satu gambar berbaring yang paling dihormati di wilayah timur laut Thailand.
Di luar tempat suci utama, area kuil menampung replika Phra That Phanom yang dibuat dengan cermat, stupa paling suci di wilayah Mekong. Permata arsitektur ini memungkinkan para peziarah untuk memberikan penghormatan kepada esensi Stupa Agung tanpa bepergian ke perbatasan. Lanskap kuil semakin diperkaya oleh patung dan arca plesteran yang rumit yang menggambarkan adegan dari kisah Jataka (kehidupan Buddha sebelumnya) dan kosmologi Buddhis. Karya seni ini berfungsi sebagai "khotbah diam," menawarkan bimbingan moral dan refleksi spiritual bagi mereka yang berjalan melalui jalan setapak kompleks yang tenang dan dipenuhi pepohonan.
Secara budaya, Wat Phutthasaiyaram berfungsi sebagai jantung masyarakat yang dinamis, melestarikan kekayaan "Heet Sip Song" (dua belas bulan tradisi Isan) dan kearifan lokal. Selama festival bulan besar, kuil berubah menjadi pusat semangat keagamaan, di mana ritual kuno dipraktikkan dengan pengabdian yang tak tergoyahkan. Kunjungan ke kuil ini menawarkan lebih dari sekadar sekilas arsitektur yang indah; ini memberikan perendaman yang mendalam ke dalam iman yang hidup. Ini adalah tempat di mana masa lalu dan masa kini hidup berdampingan, menawarkan tempat peristirahatan yang damai bagi jiwa dan bukti warisan spiritual abadi masyarakat Sakon Nakhon.
Cara Menuju ke Sana
- Dari kota Sakon Nakhon, ambil Highway 22 (Sakon Nakhon-Udon Thani) menuju distrik Phanna Nikhom. Ketika Anda mencapai persimpangan untuk subdistrik Phok Yai, belok dan ikuti rambu-rambu sekitar 5-10 kilometer. Anda akan mencapai kuil, dan ada tempat parkir yang nyaman.
Perjalanan
-
Waktu Terbaik untuk Berkunjung: Disarankan untuk tiba di kuil pada pagi hari (sekitar pukul 08:00 – 09:30) karena sinar matahari menerangi kuil dengan indah, dan cuacanya tidak terlalu panas, ideal untuk mengagumi patung-patung luar ruangan di sekitar kuil.
-
Pakaian: Karena ini adalah tempat suci yang sangat dihormati oleh penduduk setempat, wanita harus mengenakan rok panjang yang menutupi lutut atau celana panjang longgar. Mengenakan sarung indigo tradisional (spesialisasi Sakon Nakhon) akan meningkatkan suasana dan memberi Anda senyum khusus dari penduduk setempat.
-
Tempat Foto yang Wajib Dikunjungi: Selain memotret Buddha berbaring di dalam kuil, cobalah berjalan ke belakang kuil untuk memotret replika Phra That Phanom. Sudut ke atas akan dengan indah menangkap puncak yang rumit dengan latar belakang langit Sakon Nakhon.
-
Berdoa untuk Berkah: Menurut kepercayaan setempat, doa kepada Buddha berbaring berfokus pada kedamaian, penyembuhan dari penyakit, dan kelancaran dalam keberuntungan. Disarankan untuk bermeditasi dengan tenang di depan Buddha selama sekitar 5 menit untuk menerima energi damai-Nya.
-
Rasakan Komunitas Lokal Ban Phok Yai: Setelah berdoa, berjalan-jalanlah melalui desa Ban Phok Yai di sekitarnya. Anda akan menyaksikan cara hidup sederhana para penduduk desa. Jika Anda beruntung, Anda bahkan mungkin melihat pemintalan kapas tradisional atau pewarnaan indigo.
-
Bepergian dengan mobil pribadi: Jika mengemudi sendiri, berhati-hatilah saat memasuki area subdistrik Phok Yai, karena jalannya adalah jalan dua jalur dan mungkin ada sepeda atau ternak yang menyeberang jalan sesekali.
-
Oleh-oleh: Jangan lupa untuk melihat produk dari kelompok perempuan, terutama kain ikat indigo Distrik Phannanikom, yang terkenal di dunia karena pola unik dan pewarna alaminya.
-
Membawa air minum dan perlindungan matahari: Meskipun ada banyak pohon di dalam area kuil, area di sekitar patung bisa menjadi cerah. Dianjurkan untuk membawa topi, payung, atau kipas portabel.
-
Memberikan sumbangan sesuai dengan iman Anda: Jika Anda ingin mendukung restorasi kuil, Anda dapat menyumbang di kotak sumbangan di dalam aula utama. Dana ini akan digunakan langsung untuk pemeliharaan patung Buddha dan fasilitas kuil.
Biaya Masuk:
- Gratis Masuk.
Jam Buka:
- Buka Setiap Hari mulai pukul 08:00 – 17:00. (Harap dicatat bahwa jam buka mungkin sedikit berbeda pada hari libur Buddhis besar atau selama upacara keagamaan khusus yang diadakan di kuil.)